Perbedaan Lampu Putih dan Kuning

gastronoid.com – Perbedaan Lampu Putih dan Kuning. Pada era modern ini, kemajuan teknologi telah membawa kita ke dalam beragam pilihan pencahayaan yang tidak hanya berkaitan dengan kecerahan, tetapi juga warna cahaya yang dihasilkan. Dua varian yang seringkali menjadi bahan pertimbangan adalah lampu putih dan kuning. Semula sekilas, mungkin terlihat sepele, namun perbedaan antara keduanya ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, dari estetika hingga kesehatan. Mari kita menjelajahi perbedaan antara kedua jenis lampu ini dengan bahasa yang santai namun informatif.

Warna Cahaya

  1. Sumber Cahaya:
    • Lampu Putih: Umumnya menggunakan sumber cahaya berbasis LED atau lampu pijar yang menghasilkan spektrum cahaya yang lebih luas. Beberapa teknologi, seperti LED putih dingin, cenderung menghasilkan warna yang lebih biru.
    • Lampu Kuning: Biasanya menggunakan sumber cahaya yang menghasilkan warna dominan kuning atau jingga, seperti lampu pijar tradisional dengan filamen warna kuning atau lampu natrium berteknologi tinggi.
  2. Panjang Gelombang:
    • Lampu Putih: Memiliki panjang gelombang yang lebih rendah, sering mendekati bagian biru dari spektrum. Biasanya, lampu putih terkait dengan panjang gelombang sekitar 450-500 nanometer.
    • Lampu Kuning: Memiliki panjang gelombang yang lebih tinggi, terletak di sekitar bagian kuning atau oranye dari spektrum. Panjang gelombang lampu kuning berkisar antara 570-590 nanometer.
  3. Warna Dominan:
    • Lampu Putih: Warna dominan cenderung putih atau biru, tergantung pada jenis lampu putih yang digunakan. Warna ini dapat memberikan kesan kecerahan dan ketajaman.
    • Lampu Kuning: Warna dominan adalah kuning atau jingga. Lampu kuning memberikan kesan hangat dan nyaman, sering kali digunakan untuk menciptakan suasana yang tenang.

Suhu Warna

  1. Definisi Suhu Warna:
    • Lampu Putih: Suhu warna mengacu pada tingkat kehangatan atau kedinginan cahaya yang dihasilkan oleh lampu. Suhu warna diukur dalam Kelvin (K), dan semakin tinggi nilainya, semakin “dingin” cahayanya terlihat.
    • Lampu Kuning: Suhu warna pada lampu kuning umumnya lebih rendah, menghasilkan cahaya yang terlihat lebih “hangat.”
  2. Spektrum Cahaya:
    • Lampu Putih: Suhu warna yang tinggi pada lampu putih sering dikaitkan dengan spektrum cahaya yang lebih tinggi pada bagian biru. Suhu warna tinggi ini memberikan kesan cahaya yang lebih terang dan fokus.
    • Lampu Kuning: Suhu warna yang rendah pada lampu kuning berarti spektrum cahayanya cenderung lebih tinggi pada bagian kuning atau oranye. Ini memberikan kesan cahaya yang lebih lembut dan hangat.
  3. Rentang Suhu Warna:
    • Lampu Putih: Suhu warna lampu putih biasanya berkisar antara 5000 hingga 6500 Kelvin. Pada nilai ini, cahaya cenderung terlihat lebih putih, biru, atau dingin.
    • Lampu Kuning: Suhu warna lampu kuning lebih rendah, dengan rentang umum antara 2700 hingga 3500 Kelvin. Pada nilai ini, cahaya terlihat lebih kuning atau hangat.

Kelangsungan Warna

  1. Color Rendering Index (CRI):
    • Lampu Putih: Lampu putih sering memiliki CRI yang tinggi. CRI mengukur kemampuan lampu untuk mereproduksi warna dengan akurat dibandingkan dengan cahaya alami. Lampu putih dengan CRI tinggi cenderung memberikan reproduksi warna yang lebih baik.
    • Lampu Kuning: Kelangsungan warna pada lampu kuning bisa bervariasi. Beberapa lampu kuning mungkin memiliki CRI yang tinggi, tetapi ada juga yang memiliki CRI yang lebih rendah. CRI yang rendah dapat menyebabkan warna tampak kurang akurat.
  2. Rentang Spektrum Cahaya:
    • Lampu Putih: Lampu putih sering kali memiliki spektrum cahaya yang lebih luas, mencakup berbagai warna dalam spektrum. Ini membantu dalam mereproduksi warna dengan lebih akurat.
    • Lampu Kuning: Beberapa lampu kuning mungkin memiliki spektrum yang lebih terfokus pada warna-warna tertentu, terutama dalam rentang kuning dan oranye. Hal ini dapat memengaruhi kelangsungan warna terutama untuk warna di luar spektrum kuning.

Efisiensi Energi

  1. Teknologi Penggunaan:
    • Lampu Putih: Sebagian besar lampu putih yang efisien secara energi saat ini menggunakan teknologi LED. Lampu LED dikenal karena keefisienan energinya yang tinggi, karena dapat menghasilkan cahaya dengan menggunakan daya yang relatif rendah.
    • Lampu Kuning: Lampu kuning dapat menggunakan berbagai teknologi, termasuk lampu pijar tradisional, lampu LED kuning, atau teknologi lainnya. Namun, secara umum, lampu kuning cenderung kurang efisien dibandingkan dengan lampu putih LED.
  2. Konsumsi Daya:
    • Lampu Putih: Lampu LED putih memiliki konsumsi daya yang rendah. Sebuah lampu LED putih yang setara dengan lampu pijar tradisional 60 watt mungkin hanya menggunakan sekitar 8-10 watt daya.
    • Lampu Kuning: Konsumsi daya lampu kuning dapat bervariasi tergantung pada jenis dan teknologi lampu yang digunakan. Namun, lampu kuning tradisional seperti lampu pijar cenderung memiliki konsumsi daya yang lebih tinggi daripada lampu LED putih dengan kecerahan serupa.
  3. Umur Pakai dan Ketahanan:
    • Lampu Putih: Lampu LED putih memiliki umur pakai yang panjang dan tahan lama. Mereka dapat bertahan selama puluhan ribu jam penggunaan, sehingga mengurangi kebutuhan penggantian dan limbah.
    • Lampu Kuning: Lampu pijar kuning tradisional memiliki umur pakai yang lebih pendek dibandingkan dengan lampu LED. Mereka cenderung memiliki tingkat keausan yang lebih cepat dan seringkali perlu diganti lebih sering.
  4. Efisiensi Konversi Energi:
    • Lampu Putih: Lampu LED putih memiliki efisiensi konversi energi yang tinggi karena sebagian besar energi yang digunakan diubah menjadi cahaya. Sedikit panas yang dihasilkan, membuatnya efisien secara termal.
    • Lampu Kuning: Lampu pijar tradisional, yang umumnya digunakan sebagai lampu kuning, cenderung kurang efisien dalam konversi energi. Sebagian besar energi yang digunakan oleh lampu pijar diubah menjadi panas, bukan cahaya.
  5. Pengaruh Lingkungan:
    • Lampu Putih: Lampu LED putih memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah karena umur pakainya yang panjang, konsumsi daya yang rendah, dan kemampuannya untuk didaur ulang.
    • Lampu Kuning: Lampu pijar tradisional, jika tidak didaur ulang dengan benar, dapat memiliki dampak lingkungan yang lebih besar karena kandungan bahan berbahaya seperti merkuri.
  6. Biaya Operasional:
    • Lampu Putih: Meskipun lampu LED putih mungkin lebih mahal saat pembelian, biaya operasionalnya lebih rendah karena konsumsi daya yang rendah dan umur pakai yang panjang.
    • Lampu Kuning: Meskipun mungkin lebih terjangkau secara langsung, biaya operasional lampu kuning, terutama lampu pijar tradisional, dapat lebih tinggi karena konsumsi daya yang lebih besar dan umur pakai yang lebih pendek.

Kegunaan Umum

  1. Penerangan Umum:
    • Lampu Putih: Cocok untuk penerangan umum di berbagai ruangan, termasuk ruang tamu, dapur, kamar tidur, dan ruang kerja. Kecerahan dan ketajaman cahayanya membuatnya ideal untuk kegiatan sehari-hari dan tugas-tugas rumah tangga.
    • Lampu Kuning: Digunakan untuk memberikan penerangan yang lebih lembut dan atmosferis. Cocok untuk menciptakan suasana santai di ruang tamu atau kamar tidur.
  2. Tugas dan Area Kerja:
    • Lampu Putih: Dapat memberikan cahaya yang fokus dan detil, sehingga sering digunakan di tempat-tempat kerja atau area tugas, seperti meja kerja, dapur, atau bengkel.
    • Lampu Kuning: Kurang cocok untuk tugas yang memerlukan ketajaman visual. Lebih sering digunakan untuk memberikan penerangan suasana daripada penerangan tugas.
  3. Penerangan Dekoratif:
    • Lampu Putih: Meskipun tidak selalu digunakan untuk tujuan dekoratif, lampu putih dapat digunakan dalam desain pencahayaan untuk menciptakan tampilan yang modern dan bersih.
    • Lampu Kuning: Sering digunakan secara dekoratif untuk menciptakan suasana hangat dan ramah. Cocok untuk lampu gantung, lampu meja, atau lampu lantai dekoratif.
  4. Penerangan Luar Ruangan:
    • Lampu Putih: Digunakan untuk penerangan luar ruangan seperti lampu jalan, lampu taman, atau penerangan area luar rumah. Kecerahan dan efisiensi energinya membuatnya cocok untuk keperluan ini.
    • Lampu Kuning: Umumnya kurang umum digunakan untuk penerangan luar ruangan, kecuali untuk menciptakan efek dekoratif atau suasana tertentu di area luar rumah.
  5. Kegunaan dalam Kendaraan:
    • Lampu Putih: Sering digunakan sebagai lampu utama pada kendaraan, memberikan penerangan yang optimal di malam hari. Cocok untuk memberikan visibilitas tinggi.
    • Lampu Kuning: Biasanya digunakan sebagai lampu indikator, lampu belok, atau lampu sorot tambahan pada kendaraan. Memberikan penerangan lebih rendah dan kenyamanan visual.
  6. Penerangan Lalu Lintas:
    • Lampu Putih: Digunakan sebagai lampu jalan dan lampu lalu lintas untuk memberikan penerangan yang maksimal dan visibilitas yang baik di jalan raya.
    • Lampu Kuning: Digunakan sebagai lampu pemberhentian, lampu belok, atau lampu sorot tambahan pada lalu lintas. Memberikan penerangan yang lebih terfokus.
  7. Pengaruh Psikologis:
    • Lampu Putih: Dikaitkan dengan kewaspadaan, fokus, dan aktivitas yang memerlukan ketajaman visual. Cocok untuk ruang kerja atau tempat-tempat yang membutuhkan penerangan aktif.
    • Lampu Kuning: Memberikan kesan yang lebih santai, hangat, dan nyaman. Cocok untuk menciptakan suasana yang lebih tenang di ruang tamu atau kamar tidur.

Penggunaan Interior/Exterior

  1. Penggunaan Interior:
    • Lampu Putih: Sangat umum digunakan di dalam ruangan untuk memberikan penerangan umum, tugas, atau dekoratif. Cocok untuk dapur, ruang tamu, kamar tidur, atau ruang kerja di dalam rumah.
    • Lampu Kuning: Sering digunakan di dalam ruangan untuk menciptakan suasana yang lebih hangat dan nyaman. Cocok untuk ruang tamu, kamar tidur, atau area relaksasi di rumah.
  2. Penggunaan Exterior:
    • Lampu Putih: Cocok untuk penerangan luar ruangan, seperti lampu taman, lampu jalan, atau lampu dinding luar rumah. Efisiensi energinya membuatnya ideal untuk penggunaan luar ruangan di malam hari.
    • Lampu Kuning: Kurang umum digunakan untuk penerangan luar ruangan, terutama untuk penerangan fungsional seperti lampu jalan. Namun, bisa digunakan secara dekoratif untuk menciptakan efek atmosfer tertentu di taman atau area luar rumah.
  3. Daya Tahan terhadap Cuaca:
    • Lampu Putih: Lampu putih LED cenderung tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dan dapat digunakan di luar ruangan tanpa risiko yang signifikan terhadap kinerjanya.
    • Lampu Kuning: Beberapa lampu kuning tradisional mungkin tidak sekuat lampu putih dalam menghadapi cuaca ekstrem. Lampu pijar, misalnya, dapat terpengaruh oleh kelembaban atau suhu yang tidak stabil.
  4. Aplikasi Kendaraan:
    • Lampu Putih: Sering digunakan sebagai lampu utama pada mobil dan sepeda motor karena memberikan visibilitas tinggi di malam hari.
    • Lampu Kuning: Biasanya digunakan sebagai lampu indikator atau lampu sorot tambahan pada kendaraan. Lebih sering digunakan untuk memberikan penerangan yang lebih rendah dan kenyamanan visual.
  5. Penerangan Dekoratif Interior:
    • Lampu Putih: Digunakan untuk penerangan dekoratif dalam bentuk lampu lantai, lampu meja, atau lampu gantung modern di dalam ruangan.
    • Lampu Kuning: Lebih umum digunakan untuk menciptakan efek dekoratif, seperti lampu lantai atau lampu meja dengan filamen kuning untuk memberikan sentuhan vintage.
  6. Penerangan Suasana Exterior:
    • Lampu Putih: Digunakan untuk menciptakan penerangan suasana di luar ruangan, seperti pencahayaan taman atau pencahayaan teras di malam hari.
    • Lampu Kuning: Dapat digunakan secara dekoratif untuk menciptakan atmosfer yang lebih hangat di taman atau area luar rumah.
  7. Penerangan Area Kerja Interior:
    • Lampu Putih: Ideal untuk penerangan area kerja di dalam ruangan, seperti meja kerja, dapur, atau ruang kerja.
    • Lampu Kuning: Kurang cocok untuk area kerja yang memerlukan ketajaman visual. Lebih sering digunakan di area santai atau hiburan di dalam rumah.

Pengaruh pada Tidur

  1. Suhu Warna dan Ritme Circadian:
    • Lampu Putih: Suhu warna yang tinggi pada lampu putih, terutama pada malam hari, dapat merangsang produksi melatonin (hormon tidur), yang dapat menghambat tidur dan mengganggu ritme tidur alami.
    • Lampu Kuning: Suhu warna yang lebih rendah pada lampu kuning dapat membantu menjaga keseimbangan hormon melatonin, mempromosikan tidur yang lebih baik dan tidak mengganggu ritme tidur.
  2. Efek Blue Light:
    • Lampu Putih: Lampu putih, khususnya yang memiliki spektrum biru yang tinggi, dapat mengandung lebih banyak cahaya biru. Cahaya biru ini dapat menghambat produksi melatonin, sehingga mempengaruhi kemampuan untuk tertidur.
    • Lampu Kuning: Lampu kuning cenderung memiliki cahaya biru yang lebih rendah, sehingga memiliki dampak yang lebih rendah pada produksi melatonin dan dapat mendukung tidur yang lebih baik.
  3. Kenyamanan Visual dan Relaksasi:
    • Lampu Putih: Meskipun cocok untuk aktivitas di malam hari, seperti membaca, lampu putih dapat memberikan kesan yang lebih terjaga dan kurang mendukung untuk relaksasi sebelum tidur.
    • Lampu Kuning: Warna kuning atau jingga dari lampu kuning memberikan kesan yang lebih hangat dan nyaman, menciptakan atmosfer yang lebih tenang dan mendukung relaksasi.
  4. Penggunaan pada Malam Hari:
    • Lampu Putih: Jika digunakan pada malam hari, khususnya sebelum tidur, lampu putih dapat meningkatkan kejernihan dan mengurangi produksi melatonin, mempersulit proses tidur.
    • Lampu Kuning: Lebih disarankan untuk digunakan pada malam hari, karena suhu warna yang lebih rendah dan kurangnya cahaya biru dapat mendukung kondisi tidur yang lebih baik.
  5. Penggunaan di Kamar Tidur:
    • Lampu Putih: Cocok untuk penerangan di kamar tidur selama aktivitas di malam hari, tetapi sebaiknya diminimalkan sebelum waktu tidur untuk mendukung kualitas tidur.
    • Lampu Kuning: Lebih disukai untuk penerangan di kamar tidur, terutama menjelang waktu tidur, untuk menciptakan suasana yang lebih santai dan membantu pemrosesan melatonin.
  6. Dampak pada Ritme Tidur:
    • Lampu Putih: Pemakaian yang berlebihan pada malam hari dapat merusak ritme tidur dan menyebabkan kesulitan tidur atau tidur yang tidak nyenyak.
    • Lampu Kuning: Penggunaan lampu kuning, terutama menjelang tidur, dapat membantu mendukung ritme tidur alami dan menciptakan kondisi yang lebih baik untuk istirahat malam yang berkualitas.
  7. Pengaruh Pada Tidur Anak-Anak:
    • Lampu Putih: Pada anak-anak, penggunaan lampu putih pada malam hari dapat mempengaruhi produksi melatonin dan memengaruhi kualitas tidur mereka.
    • Lampu Kuning: Lebih disukai untuk kamar tidur anak-anak karena dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk tidur.

Aplikasi Kendaraan

  1. Lampu Utama Kendaraan:
    • Lampu Putih: Paling umum digunakan sebagai lampu utama pada kendaraan. Cahaya putih memberikan visibilitas tinggi di malam hari dan kondisi cuaca buruk. Berbagai teknologi seperti lampu LED atau lampu halogen putih sering digunakan.
    • Lampu Kuning: Tidak umum digunakan sebagai lampu utama kendaraan. Warna kuning sering digunakan sebagai lampu indikator, lampu belok, atau lampu sorot tambahan.
  2. Lampu Indikator dan Belok:
    • Lampu Putih: Digunakan sebagai lampu indikator dan belok pada beberapa kendaraan, terutama pada lampu depan. Lampu putih indikator dapat memberikan tampilan yang bersih dan modern.
    • Lampu Kuning: Umum digunakan sebagai lampu indikator dan belok. Warna kuning lebih mudah terlihat oleh pengemudi lain dan memberikan sinyal yang jelas.
  3. Lampu Sorot Tambahan:
    • Lampu Putih: Digunakan sebagai lampu sorot tambahan pada kendaraan off-road atau untuk tujuan dekoratif. Mampu memberikan cahaya yang terang dan fokus.
    • Lampu Kuning: Juga digunakan sebagai lampu sorot tambahan, terutama dalam keadaan off-road atau kondisi khusus. Warna kuning dapat memberikan penerangan yang lebih nyaman dan kurang mencolok.
  4. Pengaruh pada Visibilitas dan Kecelakaan:
    • Lampu Putih: Dikaitkan dengan visibilitas tinggi dan membantu mengurangi risiko kecelakaan di malam hari. Cahaya putih lebih mudah diserap oleh mata manusia.
    • Lampu Kuning: Warna kuning dapat memberikan visibilitas yang baik, terutama di kondisi cuaca buruk. Dalam beberapa situasi, warna kuning dapat lebih mudah dilihat oleh manusia.
  5. Estetika dan Desain Kendaraan:
    • Lampu Putih: Dapat memberikan tampilan yang modern dan bersih pada desain kendaraan. Umumnya digunakan untuk menciptakan tampilan yang elegan.
    • Lampu Kuning: Memberikan sentuhan retro atau klasik pada desain kendaraan. Warna kuning sering digunakan untuk memberikan nuansa klasik atau off-road.
  6. Regulasi Lalu Lintas:
    • Lampu Putih: Umumnya sesuai dengan regulasi lalu lintas dan kendaraan di banyak negara. Lampu putih utama diperlukan di malam hari untuk memberikan visibilitas yang optimal.
    • Lampu Kuning: Digunakan sesuai dengan regulasi lalu lintas sebagai lampu indikator, belok, atau tambahan. Warna kuning memberikan sinyal yang jelas kepada pengemudi lain.
  7. Efek pada Kesehatan Mata:
    • Lampu Putih: Cahaya putih yang lebih terang dapat menciptakan glare atau silau yang dapat mengganggu kenyamanan pengemudi, terutama di malam hari.
    • Lampu Kuning: Warna kuning yang lebih hangat dapat memberikan kenyamanan visual dan mengurangi potensi untuk menciptakan glare pada mata pengemudi.
  8. Pengaruh pada Pengemudi Lain:
    • Lampu Putih: Dapat dianggap lebih mencolok dan mengganggu bagi pengemudi lain jika tidak diatur dengan baik. Glare dari lampu putih dapat membuat pengemudi lain merasa tidak nyaman.
    • Lampu Kuning: Warna kuning sering dianggap lebih lembut dan kurang mengganggu bagi pengemudi lain, terutama di kondisi lalu lintas malam hari.

Keamanan Lalu Lintas

  1. Visibilitas dan Pengenalan Sinyal:
    • Lampu Putih: Menawarkan visibilitas yang sangat baik di jalan raya, terutama dalam kondisi cuaca buruk atau gelap. Sinyal lampu putih dapat dengan mudah diidentifikasi dan diinterpretasikan oleh pengemudi lain.
    • Lampu Kuning: Warna kuning memberikan sinyal yang jelas dan mudah dikenali di lalu lintas. Lampu kuning pada lampu indikator atau belok memberikan peringatan yang baik kepada pengemudi lain.
  2. Penandaan Urgensi dan Kecepatan:
    • Lampu Putih: Dapat digunakan sebagai lampu sorot di lalu lintas darurat atau situasi yang memerlukan perhatian khusus. Memberikan penandaan kecepatan tinggi atau kendaraan yang membutuhkan keamanan ekstra.
    • Lampu Kuning: Tidak biasa digunakan untuk penandaan urgensi atau kecepatan tinggi. Lebih sering digunakan sebagai lampu indikator dan belok.
  3. Pengaruh pada Kewaspadaan Pengemudi:
    • Lampu Putih: Cahaya putih yang terang dapat meningkatkan kewaspadaan pengemudi dan membantu dalam mendeteksi kendaraan atau objek di jalan dengan lebih baik.
    • Lampu Kuning: Walaupun kurang intensif, warna kuning tetap dapat memberikan kewaspadaan kepada pengemudi, terutama saat belok atau mengganti jalur.
  4. Penggunaan pada Kendaraan Darurat:
    • Lampu Putih: Digunakan pada kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan mobil polisi. Memberikan sinyal yang jelas dan dapat dilihat dari jarak jauh.
    • Lampu Kuning: Tidak umum digunakan sebagai lampu utama pada kendaraan darurat. Warna kuning dapat digunakan sebagai lampu indikator atau sorot tambahan.
  5. Estetika dan Identifikasi Kendaraan:
    • Lampu Putih: Menjadi standar untuk lampu utama kendaraan. Estetika lampu putih memberikan identifikasi yang jelas di malam hari.
    • Lampu Kuning: Lebih umum digunakan sebagai lampu indikator, namun dapat memberikan identifikasi tambahan untuk kendaraan tertentu seperti truk konstruksi.
  6. Pengaruh pada Pengemudi Lain:
    • Lampu Putih: Dalam situasi tertentu, seperti lalu lintas malam hari, lampu putih dapat menjadi lebih mencolok dan membutuhkan pengaturan dengan baik untuk menghindari membuat pengemudi lain merasa tidak nyaman.
    • Lampu Kuning: Warna kuning sering dianggap lebih lembut dan kurang mencolok. Ini dapat memberikan keuntungan dalam kondisi lalu lintas malam hari atau di lingkungan perkotaan.
  7. Penggunaan Lampu Belakang:
    • Lampu Putih: Digunakan sebagai lampu belakang untuk memberikan penerangan dan indikasi keberadaan kendaraan di malam hari.
    • Lampu Kuning: Digunakan sebagai lampu belakang, terutama pada lampu indikator dan lampu belok. Memberikan sinyal belok dan pergerakan kendaraan.
  8. Peringatan dan Keselamatan di Persimpangan:
    • Lampu Putih: Digunakan sebagai lampu lalu lintas untuk memberikan arahan yang jelas pada persimpangan. Menentukan hak prioritas dan pergerakan kendaraan.
    • Lampu Kuning: Digunakan sebagai lampu belok dan lampu indikator pada persimpangan. Memberikan peringatan dan memberi tahu pengemudi lain tentang niat belok.

 

Perbedaan Lampu Putih Lampu Kuning
Warna Cahaya Cahaya putih atau biru muda Cahaya kuning atau jingga
Suhu Warna Tinggi (biasanya 5000-6500 Kelvin) Rendah (biasanya 2700-3500 Kelvin)
Kelangsungan Warna CRI (Color Rendering Index) tinggi, lebih akurat CRI yang bervariasi, mungkin rendah
Efisiensi Energi Umumnya lebih efisien Umumnya kurang efisien
Kegunaan Umum Penerangan umum, tugas, dan area kerja Penerangan suasana, dekoratif, dan relaksasi
Penggunaan Interior/Exterior Bisa digunakan di dalam dan luar ruangan Biasanya digunakan di dalam ruangan
Pengaruh pada Tidur Potensial untuk mengganggu ritme tidur Lebih ramah untuk kenyamanan tidur
Aplikasi Kendaraan Biasanya digunakan sebagai lampu utama pada mobil Biasanya digunakan sebagai lampu indikator atau lampu sorot pada mobil
Keamanan Lalu Lintas Digunakan sebagai lampu jalan dan penerangan lalu lintas Digunakan sebagai lampu pemberhentian atau lampu belok pada lalu lintas

Itulah Perbedaan Lampu Putih dan Kuning. Terima kasih telah membaca di gastronoid dan semoga artikel ini bisa membantu kamu.